Dunia saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang sangat krusial. Kehadiran Revolusi Industri 4.0 yang menitikberatkan pada otomatisasi dan pertukaran data, disusul dengan munculnya konsep Society 5.0 dari Jepang yang berfokus pada integrasi ruang siber dan ruang fisik, telah mengubah tatanan kehidupan manusia secara fundamental. Perubahan ini tidak hanya menyentuh sektor ekonomi dan teknologi, tetapi juga merambah ke dalam jantung institusi pendidikan, termasuk Pendidikan Islam.
Pendidikan Islam, yang secara historis menjadi pilar pembentuk karakter dan penjaga moralitas umat, kini dihadapkan pada realitas baru. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana mentransfer ilmu pengetahuan dari guru ke murid, melainkan bagaimana menjaga relevansi nilai-nilai spiritual di tengah gempuran algoritma, kecerdasan buatan (AI), dan pergeseran etika global.
Memahami Konvergensi Industri 4.0 dan Society 5.0
Sebelum membedah tantangannya, kita perlu memahami konteks lingkungan tempat Pendidikan Islam beroperasi saat ini. Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan munculnya Internet of Things (IoT), Big Data, dan Artificial Intelligence. Fokusnya adalah efisiensi mesin dan sistem.
Namun, Society 5.0 datang dengan perspektif yang lebih humanis. Jika Industri 4.0 adalah tentang bagaimana teknologi bekerja, maka Society 5.0 adalah tentang bagaimana teknologi tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup manusia secara berkelanjutan. Di sinilah Pendidikan Islam memiliki celah sekaligus beban besar: bagaimana memastikan bahwa teknologi tetap menjadi pelayan bagi nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan, bukan sebaliknya.
Tantangan Epistemologis dan Kurikulum
Tantangan pertama yang dihadapi adalah sinkronisasi kurikulum. Pendidikan Islam sering kali dianggap tradisional dan lambat dalam merespons perubahan zaman. Di era Society 5.0, ilmu pengetahuan berkembang dengan kecepatan cahaya.
1. Integrasi Ilmu Agama dan Sains
Selama berabad-abad, terjadi dikotomi antara ilmu agama (tsaqafah) dan ilmu umum (sains). Di era digital, dikotomi ini menjadi hambatan besar. Pelajar Muslim tidak bisa lagi hanya memahami fiqh ibadah tanpa memahami etika penggunaan teknologi, atau memahami tauhid tanpa melihat kebesaran Allah melalui sains data. Tantangannya adalah menciptakan kurikulum yang integratif-interkonektif, di mana Al-Qur’an dan Sunnah menjadi basis epistemologis bagi pengembangan teknologi.
2. Literasi Digital dan Media
Pendidikan Islam saat ini dituntut untuk tidak hanya mengajarkan baca tulis Al-Qur’an, tetapi juga literasi digital. Arus informasi yang tidak terbendung membawa risiko disinformasi keagamaan (hoaks religi) dan radikalisme online. Lembaga pendidikan Islam harus mampu membekali santri dan siswanya dengan kemampuan filterisasi informasi agar tidak kehilangan pegangan di tengah rimba digital.
Reorientasi Peran Pendidik (Guru dan Dosen)
Di era AI, peran guru sebagai satu-satunya sumber ilmu telah berakhir. Google dan ChatGPT bisa memberikan jawaban teologis dalam hitungan detik. Lantas, apa peran guru agama di era Society 5.0?
Transformasi dari Pengajar menjadi Fasilitator dan Murabbi
Tantangan bagi pendidik Muslim adalah bertransformasi menjadi sosok yang tidak bisa digantikan oleh robot: yakni sebagai Murabbi (pembimbing jiwa). Teknologi bisa mengajarkan cara shalat, tapi teknologi tidak bisa memberikan keteladanan (uswah hasanah) tentang kekhusyukan dan empati sosial. Pendidik harus memiliki digital mindset namun tetap memegang teguh spiritual heart.
Degradasi Moral dan Etika di Ruang Digital
Masalah utama yang muncul di era Revolusi Industri 4.0 adalah krisis identitas dan degradasi moral. Media sosial menciptakan standar kebahagiaan semu yang seringkali bertentangan dengan nilai kesederhanaan dan rasa syukur dalam Islam.
1. Cyber-Ethics (Akhlak Digital)
Pendidikan Islam menghadapi tantangan besar dalam merumuskan dan mengimplementasikan konsep akhlak di ruang siber. Fenomena cyber-bullying, penyebaran aib, dan hilangnya adab dalam berpendapat di media sosial menunjukkan bahwa kurikulum akhlak kita perlu diperbarui agar relevan dengan perilaku digital generasi Z dan Alpha.
2. Tantangan Sekularisme Digital
Teknologi seringkali membawa narasi sekuler yang memisahkan kehidupan sehari-hari dari pengawasan Tuhan. Di era Society 5.0, di mana manusia semakin bergantung pada algoritma untuk mengambil keputusan, kesadaran akan kehadiran Allah (muraqabah) menjadi semakin tipis. Pendidikan Islam harus mampu menginternalisasi nilai-nilai ketuhanan ke dalam ekosistem teknologi yang digunakan sehari-hari.
Infrastruktur dan Kesenjangan Digital
Secara pragmatis, tantangan Pendidikan Islam di Indonesia khususnya, adalah masalah kesenjangan infrastruktur. Banyak pesantren atau madrasah di pelosok yang belum tersentuh akses internet memadai.
-
Aksesibilitas: Tanpa infrastruktur yang baik, tujuan Society 5.0 untuk menciptakan pemerataan pendidikan akan sulit tercapai.
-
Kemandirian Ekonomi Lembaga: Lembaga pendidikan Islam perlu mulai melirik ekonomi digital untuk menopang operasional mereka, agar tidak hanya bergantung pada sumbangan, melainkan mampu mandiri secara finansial melalui ekosistem digital.
Peluang di Tengah Tantangan
Meski tantangannya besar, era ini juga menawarkan peluang emas bagi dakwah dan pendidikan Islam:
-
Globalisasi Dakwah: Melalui platform digital, nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin bisa disebarkan ke seluruh dunia tanpa sekat geografis.
-
Personalisasi Pembelajaran: Dengan bantuan AI, metode pembelajaran agama bisa disesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing siswa (adaptive learning), sebuah metode yang sebenarnya sudah ada dalam konsep talaqqi klasik namun kini bisa diproduksi secara massal.
-
Preservasi Literasi Klasik: Digitalisasi kitab-kitab kuning dan manuskrip kuno memudahkan akses bagi peneliti dan pelajar di seluruh dunia untuk mengkaji khazanah keislaman dengan lebih mendalam.
Strategi Menghadapi Masa Depan
Untuk menjawab tantangan di atas, diperlukan langkah strategis yang sistematis:
1. Modernisasi Pesantren dan Madrasah
Lembaga pendidikan Islam harus terbuka terhadap teknologi tanpa kehilangan jati diri. Penggunaan Learning Management System (LMS) dan integrasi coding atau robotika ke dalam kurikulum pesantren adalah langkah yang perlu diapresiasi dan diperluas.
2. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Karomah
Di tengah dunia yang semakin otomatis, aspek kemanusiaan (humanity) menjadi barang mewah. Pendidikan Islam harus memperkuat aspek tasawuf yang moderat untuk menjaga kesehatan mental siswa di tengah tekanan dunia digital yang kompetitif.
3. Kolaborasi Lintas Sektor
Lembaga pendidikan Islam tidak bisa berjalan sendiri. Perlu kolaborasi dengan pakar teknologi, sosiolog, dan pemerintah untuk merumuskan standar pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan Industri 4.0 namun tetap berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis.
Kesimpulan
Tantangan Pendidikan Islam di era Society 5.0 dan Revolusi Industri 4.0 memang kompleks, namun bukan berarti tidak bisa diatasi. Kuncinya terletak pada kemampuan untuk melakukan adaptasi tanpa asimilasi yang menghilangkan identitas. Pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang “Berhati Mekkah, Berotak Jerman”—generasi yang memiliki iman dan takwa (IMTAK) yang kokoh sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara mumpuni.
Society 5.0 menuntut manusia untuk kembali ke fitrahnya sebagai pusat dari teknologi. Dalam perspektif Islam, ini adalah momentum untuk meneguhkan kembali peran manusia sebagai Khalifah fil Ardh (pemimpin di bumi) yang bertanggung jawab memakmurkan dunia dengan bantuan teknologi, bukan dikendalikan olehnya.
Sumber Referensi
-
Azra, Azyumardi. (2019). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana.
-
Fukuyama, M. (2018). Society 5.0: Aiming for a New Human-Centered Society. Japan Spotlight.
-
Hamdan, H. (2020). Pendidikan Islam di Era Revolusi Industri 4.0: Tantangan dan Peluang. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia.
-
Schwab, Klaus. (2016). The Fourth Industrial Revolution. World Economic Forum.
-
Nata, Abuddin. (2018). Pendidikan Islam di Era Milenial. Jakarta: Rajawali Pers.
-
Kementerian Agama RI. (2021). Roadmap Pengembangan Pendidikan Madrasah dan Pesantren 2020-2024.
-
Prasetyo, B., & Trisyanti, U. (2018). Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan Perubahan Sosial. Jurnal Iptek-Kom.



